9 Formula Storytelling yang Bisa Dipakai untuk Perusahaan, Konten, Social Media, dan Website
Banyak orang mengira storytelling hanya dibutuhkan oleh penulis, filmmaker, atau pembuat konten. Padahal, storytelling bisa digunakan hampir di semua aktivitas komunikasi bisnis.
Perusahaan bisa menggunakan storytelling untuk membangun brand. Content creator bisa menggunakannya untuk membuat konten lebih menarik. Tim marketing bisa menggunakannya untuk menjelaskan produk. Bahkan sebuah postingan social media sederhana pun bisa terasa jauh lebih kuat jika memiliki alur cerita yang jelas.
Masalahnya, storytelling bukan sekadar “bercerita”. Ada struktur yang bisa digunakan agar cerita memiliki pembukaan, konflik, perubahan, hingga penyelesaian.
Berikut 9 formula storytelling yang bisa diaplikasikan untuk perusahaan, konten social media, website, landing page, video, iklan, presentasi, hingga komunikasi pemasaran.
1. Three-Act Structure
Three-Act Structure adalah formula storytelling sederhana yang membagi cerita menjadi tiga bagian utama: Setup, Confrontation, dan Resolution.
Setup
Atur adegan dan perkenalkan karakter dalam cerita. Jelaskan siapa mereka, apa situasinya, dan apa yang sedang mereka hadapi.
Dalam marketing, karakter tersebut bisa berupa target audience atau pelanggan.
Confrontation
Sajikan masalah yang dihadapi karakter dan bangun ketegangan. Tunjukkan apa yang membuat masalah tersebut semakin penting untuk diselesaikan.
Resolution
Berikan klimaks dari cerita dengan menunjukkan bagaimana masalah tersebut diselesaikan.
Dalam konteks bisnis, produk atau jasa perusahaan dapat menjadi bagian dari solusi.
Contoh
“Setiap pagi, seorang pemilik restoran harus mengecek stok bahan makanan satu per satu. Ketika restoran semakin ramai, kesalahan pencatatan mulai terjadi. Akhirnya, ia menggunakan sistem inventory digital yang membuat pencatatan stok menjadi lebih cepat dan teratur.”
2. Five-Act Structure
Formula ini mengembangkan cerita menjadi lima bagian sehingga cocok digunakan untuk storytelling yang lebih panjang, seperti video, artikel, kampanye brand, atau presentasi.
Exposition
Perkenalkan latar belakang dan informasi penting kepada audience.
Rising Action
Ceritakan rangkaian peristiwa yang membuat masalah semakin besar dan membawa cerita menuju klimaks.
Climax
Hadirkan titik paling menarik atau perubahan terbesar dalam cerita.
Falling Action
Tunjukkan konsekuensi setelah klimaks. Konflik mulai menuju penyelesaian, tetapi hasil akhirnya masih menjadi pertanyaan.
Dénouement
Akhiri cerita dengan resolusi. Dalam storytelling bisnis, produk atau jasa dapat menjadi bagian dari solusi yang membawa karakter menuju keadaan yang lebih baik.
3. Before – After – Bridge
Formula Before – After – Bridge sangat cocok untuk marketing karena membuat audience melihat perbedaan antara kondisi sebelum dan sesudah masalah terselesaikan.
Before
Gambarkan masalah yang mungkin sedang dialami target audience. Idealnya, masalah tersebut adalah sesuatu yang dapat diselesaikan oleh perusahaan atau produk kamu.
After
Bayangkan apa yang terjadi jika masalah tersebut sudah tidak ada. Gambarkan kondisi yang lebih baik sehingga audience bisa membayangkan manfaatnya.
Bridge
Jelaskan bagaimana audience dapat berpindah dari kondisi Before menuju After. Di sinilah produk, jasa, metode, atau solusi kamu diperkenalkan.
Contoh
Before: “Website bisnis kamu sudah dibuat, tetapi pengunjung tidak kunjung berubah menjadi pelanggan.”
After: “Bayangkan jika setiap halaman website mampu menjelaskan manfaat produk, membangun kepercayaan, dan mengarahkan pengunjung untuk mengambil tindakan.”
Bridge: “Gunakan struktur landing page yang menggabungkan headline, benefit, proof, offer, FAQ, dan CTA.”
4. Problem – Agitate – Solve
Problem – Agitate – Solve atau PAS merupakan formula yang sangat kuat untuk membuat audience menyadari pentingnya sebuah masalah.
Problem
Identifikasi masalah yang dialami target audience.
Agitate
Perkuat masalah tersebut dengan menunjukkan dampaknya. Buat audience memahami apa yang mungkin terjadi jika masalah tersebut dibiarkan.
Solve
Tawarkan solusi yang relevan melalui produk, jasa, metode, atau informasi yang kamu berikan.
Contoh
“Konten kamu sudah rutin dibuat, tetapi engagement tetap rendah?”
“Kalau terus dibiarkan, kamu bisa menghabiskan waktu membuat puluhan konten tanpa mendapatkan hasil yang sebanding.”
“Mulailah menggunakan struktur konten yang memiliki hook, value, proof, dan CTA.”
5. The Golden Circle
The Golden Circle membantu perusahaan atau brand menjelaskan alasan di balik keberadaan mereka.
Strukturnya terdiri dari Why, How, dan What.
Why
Kenapa perusahaan kamu ada? Kenapa kamu memilih bisnis ini? Apa yang memotivasi kamu untuk membangun produk atau layanan tersebut?
How
Bagaimana perusahaan memenuhi Why tersebut? Jelaskan prinsip, metode, atau cara yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut.
What
Apa yang perusahaan lakukan secara nyata untuk mewujudkan Why?
Produk dan jasa berada di bagian ini.
Contoh
Why: “Kami percaya bisnis kecil juga berhak memiliki akses terhadap teknologi yang mudah digunakan.”
How: “Kami membuat solusi digital yang sederhana, terjangkau, dan mudah dipahami.”
What: “Kami menyediakan website, aplikasi, dan tools digital untuk membantu bisnis berkembang.”
6. The Magic Formula
The Magic Formula dapat digunakan untuk mengubah sebuah pengalaman menjadi cerita yang memiliki nilai bagi audience.
Incident
Ceritakan pengalaman pribadi atau kejadian yang relevan untuk menarik perhatian audience.
Action
Jelaskan tindakan spesifik yang dilakukan untuk menyelesaikan atau mencegah masalah.
Benefit
Tutup cerita dengan menunjukkan perubahan dan manfaat yang diperoleh setelah tindakan tersebut dilakukan.
Bagian ini juga bisa diperkuat menggunakan testimonial atau pengalaman pelanggan.
Contoh
“Dulu kami membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk membuat laporan penjualan.”
“Kemudian kami mengubah sistem pencatatan dan mengotomatisasi proses laporan.”
“Sekarang laporan dapat dibuat jauh lebih cepat sehingga tim bisa fokus pada pekerjaan yang lebih penting.”
7. The V Formula
The V Formula menggambarkan perjalanan karakter dari kondisi awal, jatuh ke titik terendah, kemudian bangkit menuju kondisi yang lebih baik.
Introduce
Perkenalkan karakter dan situasinya.
Lowest Point
Bawa cerita menuju titik terendah. Tunjukkan masalah atau kegagalan terbesar yang dialami karakter.
Happy Ending
Tunjukkan perubahan keadaan dan bagaimana karakter akhirnya mendapatkan hasil yang lebih baik.
Contoh
“Awalnya sebuah bisnis memiliki banyak pelanggan. Kemudian kompetitor baru bermunculan dan penjualan mulai menurun. Setelah melakukan perubahan strategi digital dan memperbaiki pengalaman pelanggan, bisnis tersebut kembali berkembang.”
8. Star – Chain – Hook
Formula ini sangat cocok untuk konten social media, iklan, video pendek, landing page, dan berbagai format komunikasi yang membutuhkan perhatian cepat.
Star
Buat pembukaan yang menarik perhatian audience. Tampilkan sesuatu yang membuat mereka ingin mengetahui kelanjutannya.
Chain
Susun serangkaian fakta, manfaat, alasan, atau informasi yang mengubah perhatian menjadi ketertarikan dan keinginan.
Hook
Akhiri dengan call-to-action yang kuat. Berikan audience tindakan yang jelas untuk dilakukan.
Contoh
Star: “Kenapa ada bisnis yang produknya biasa saja tetapi kontennya selalu ramai?”
Chain: “Karena mereka tidak hanya menjual produk. Mereka menjual masalah yang ingin diselesaikan, manfaat yang ingin didapatkan, dan cerita yang ingin dipercaya.”
Hook: “Coba gunakan formula ini pada konten kamu berikutnya.”
9. The Structure of Great Talks
Formula ini sangat cocok untuk presentasi, public speaking, video edukasi, brand storytelling, dan komunikasi perusahaan.
What Is
Mulai dengan menjelaskan situasi saat ini. Setelah itu, bandingkan kondisi tersebut dengan masa depan yang lebih baik.
What Could Be
Buat audience melihat bahwa kondisi saat ini masih memiliki banyak kekurangan, sementara masa depan yang ditawarkan jauh lebih menarik.
New Bliss
Akhiri cerita dengan menggambarkan keadaan baru yang lebih baik setelah solusi atau produk diadopsi.
Contoh
“Hari ini banyak bisnis masih mengelola pelanggan menggunakan spreadsheet yang terpisah-pisah.”
“Bayangkan jika seluruh data pelanggan dapat dikelola dalam satu sistem yang mudah digunakan.”
“Tim dapat bekerja lebih cepat, data lebih terorganisir, dan pelanggan mendapatkan pelayanan yang lebih baik.”
Storytelling dan Copywriting Itu Berbeda
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah storytelling dan copywriting bukanlah hal yang sama.
STORYTELLING = bagaimana cerita disusun.
COPYWRITING = bagaimana penawaran disusun.
Storytelling membantu audience mengikuti perjalanan sebuah cerita. Copywriting membantu mengarahkan perhatian tersebut menuju sebuah keputusan atau tindakan.
Keduanya justru bisa digunakan bersama.
Framework Besar: Storytelling → Copywriting
Jika storytelling digunakan sebagai fondasi, proses komunikasi pemasaran dapat disusun seperti berikut:
STORYTELLING
↓
Pilih 1 dari 9 Formula Cerita
↓
HEADLINE → Tarik Perhatian
↓
BENEFIT → Bangun Keinginan
↓
PROOF → Bangun Kepercayaan
↓
OFFER → Berikan Penawaran
↓
FAQ → Hilangkan Keraguan
↓
CTA → Ajak Bertindak
Bagaimana Mengaplikasikannya ke Konten?
Kesembilan formula tersebut tidak harus digunakan hanya untuk iklan.
Kamu bisa menggunakannya dalam berbagai bentuk komunikasi.
Untuk Social Media
Gunakan Star – Chain – Hook untuk konten singkat, atau Problem – Agitate – Solve untuk konten yang ingin membangun kesadaran terhadap sebuah masalah.
Untuk Website
Gunakan Before – After – Bridge untuk menjelaskan perubahan yang bisa didapatkan pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa.
Untuk Landing Page
Gunakan storytelling untuk membangun konteks masalah, kemudian lanjutkan dengan headline, benefit, proof, offer, FAQ, dan CTA.
Untuk Video
Three-Act Structure dan Five-Act Structure dapat membantu membuat video memiliki alur yang jelas dari pembukaan hingga penyelesaian.
Untuk Brand
The Golden Circle dapat digunakan untuk menjelaskan alasan mengapa sebuah brand berdiri, bagaimana brand bekerja, dan apa yang sebenarnya mereka tawarkan.
Untuk Presentasi
The Structure of Great Talks dapat membantu presentasi tidak terasa seperti sekadar kumpulan data. Audience diajak memahami kondisi saat ini, membayangkan kemungkinan yang lebih baik, lalu melihat solusi yang ditawarkan.
Kesimpulan
Storytelling bukan sekadar membuat cerita menjadi menarik.
Storytelling adalah cara menyusun informasi sehingga audience memahami masalah, merasakan ketegangan, melihat perubahan, dan akhirnya memahami mengapa sebuah solusi menjadi penting.
Dari sembilan formula di atas, tidak ada satu formula yang selalu paling baik untuk semua situasi.
Pilih formula berdasarkan tujuan komunikasi.
Jika ingin menjelaskan perjalanan masalah menuju solusi, gunakan Three-Act Structure.
Jika ingin membuat cerita yang lebih kompleks, gunakan Five-Act Structure.
Jika ingin menjual perubahan, gunakan Before – After – Bridge.
Jika ingin memperkuat masalah sebelum menawarkan solusi, gunakan Problem – Agitate – Solve.
Jika ingin membangun cerita tentang brand, gunakan The Golden Circle.
Dan setelah cerita berhasil menarik perhatian, gunakan copywriting untuk mengubah perhatian tersebut menjadi keinginan, kepercayaan, dan tindakan.
Pada akhirnya, storytelling membuat audience ingin mengikuti cerita.
Copywriting membuat mereka memahami alasan untuk bertindak.
Storytelling membuat mereka peduli. Copywriting membantu mereka mengambil keputusan.

0 Response
Posting Komentar
Silahkan berkomentar mengenai posting di atas. Terima kasih telah mengunjungi Excellent Education. Semoga Bermanfaat. :)